Home

Sebuah film komedi remaja menjadi pembicaraan orang ramai hari-hari ini. Judulnya Buruan Cium Gue!. Ia dibicarakan karena memicu pro dan kontra.

Oleh tokoh agama seperti Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, Majelis Ulama Indonesia, para orang tua, LSM-LSM pengamat media, film itu dianggap mengandung unsur pornografi dan membahayakan generasi muda, di antaranya karena menampilkan adegan ciuman antara dua orang remaja. Karena itu, mereka menuntut agar peredaran film dihentikan.

Sementara itu, kalangan yang pro menganggap Buruan Cium Gue tersebut sekadar gambaran realita anak muda Jakarta masa kini yang patut menjadi pembelajaran bagi siapa saja. Mereka, termasuk Lembaga Sensor Film yang meloloskan peredarannya, juga menilai karya itu bukan film porno.

Fenomena masyarakat yang memprotes atau keberatan terhadap sebuah film sejatinya bukan sesuatu yang luar biasa. Sebaliknya, fenomena ini justru lumrah dan memang dimungkinkan di era demokrasi seperti sekarang.

Mereka, para penentang itu, bahkan sah-sah juga kalau mau unjuk rasa. Kita tak perlu risau oleh aksi tersebut. Asalkan aksi itu disampaikan dengan cara yang benar, beradab, dan tak memakai kekerasan.

Para penentang itu bila perlu boleh saja melakukan aksi unjuk rasa di depan bioskop yang memutar Buruan Cium Gue!, sambil membawa poster yang isinya meminta orang jangan menonton. Sepanjang aksi itu tak sampai menghalangi kebebasan penonton untuk memilih, dan tak merusak bioskop, kita tentu masih bisa mentoleransinya.

Kita boleh berbeda pendapat, tapi juga bukan berarti harus memasung kebebasan berekspresi secara membabi buta. Yang perlu kita waspadai hanyalah apakah kebebasan berekspresi itu sudah melanggar norma-norma susila umum atau tidak.

Adegan ciuman sebetulnya juga bukan baru kali ini muncul dalam film Indonesia. Hanya memang dulu biasanya bukan di film-film remaja. Soalnya, dulu para sineas kita menganut semacam konvensi untuk menihilkan adegan ciuman pada film-film remaja. Para penonton Gita Cinta dari SMA tentu masih ingat bagaimana film itu tetap laris meskipun tak sekalipun menampilkan adegan ciuman.

Belakangan ini saja konvensi itu dilanggar para beberapa film remaja mutakhir. Sebut saja sebagai misal adegan ciuman Nicholas Saputra dan Dian Sastro dalam Ada apa dengan Cinta?. Bahkan siswi SMP, Shandy Aulia, sudah dikecup bibirnya oleh Samuel Rizal dalam Eiffell … I’m in Love.

Kita boleh-boleh sensitif pada adegan-adegan ciuman di layar lebar, tapi jangan lupa tayangan-tayangan yang lebih seronok di layar kaca. Kita juga jangan sampai mengabaikan banyaknya tayangan yang menampilkan aksi kekerasan dan mengandung mistik-mistik. Sebab, tayangan semacam ini tak kurang berbahayanya bagi masyarakat. ***

(Dimuat di Koran Tempo edisi 20 Agustus 2004)

Advertisements

One thought on “Kontroversi Buruan Cium Gue!

  1. setuju, sebuah film merupakan cerminan masyrakat saat ini, membendung suatu realita adalah ketidakmungkinan, satu sama lain memang hrs saling mengingatkan, membuat pilem dan mengekspresikan ide adalah “hak”, tapi apakah hak tsb tdk menyinggung hak org lain??
    menurutku pilem buruan cium gw tdk porno, emang ukuran porno apa? dlm uu blm ada batasan yg jelass, porno atau tdk, semua tergantung nurani kita…..
    tapi yg jd masalah ialah; pilem itu jd konsumsi anak2x baru gede (ABG) yg msh bingung sama maunya,yg suka sok western tanpa ada filter, masih ikut2xan, kaciann bgt, kl sampe mrk dpt input yg salah maka outputnya akan salah juga, seandainya tiap media di indonesia, baik pilem, koran,teather, sinetron (semuanya memiliki unsur EdUkAsI, bisa d bayangkan akan jadi generasi yg spt apa, sangat logis; dr mata, turun ke hati, lalu kepikiran dan realisasi,
    kaciann kan kl sampe pilem2x itu jadi pukulan rata norma d masyarakat,padahal setiap orang itu kan unique, knapa musti jadi orang lain n sok2x western…coba ada pilem2x yg bisa mengasah potensi masing2x orang, kumaha nih………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s