Home

Seorang perwira Korps Polisi Militer Angkatan Laut menembak mati empat prajurit serta melukai seorang lainnya. Insiden terjadi di sebuah asrama militer di Neusu, Banda Aceh.

Menurut hasil penyelidikan sementara, pelaku diduga mengalami depresi ketika bertugas di kawasan yang bergolak itu. Atau menurut istilah Markas Besar TNI, “Pelaku sedang dalam keadaan tidak normal layaknya seorang perwira.”

Insiden semacam itu bukan yang pertama di Indonesia. Beberapa tahun yang lalu, juga pernah ada prajurit yang stres dan menembak sejumlah rekannya di Irian Jaya. Bukan cuma sekali terdengar pula ada prajurit di satu angkatan baku tembak dengan tentara di angkatan yang lain. Ada juga tentara yang berduel peluru lawan polisi. Penyebabnya macam-macam, bisa karena rebutan pacar, saling senggol di tempat hiburan, merasa terhina dan sebagainya.

Meski tak sering-sering amat, fenomena itu tetap mencemaskan. Tentara dibekali senjata mestinya untuk menembak musuh, bukan kawannya sendiri, apalagi orang sipil yang tak bersalah. Seandainya ada tentara yang tanpa sebab menembak rekannya sampai mati, pasti ada sesuatu yang patut diduga menyalahi aturan.

Memang ada beberapa kasus tertentu, misalnya seorang komandan menembak mati anak buahnya yang melakukan desersi atau pengkhianatan di medan perang. Tindakan semacam ini tentu saja dapat dibenarkan dalam konteks hukum militer.

Namun, sejauh yang kita tahu, insiden di Aceh bukan dalam konteks itu. Korban bukan desertir atau pengkhianat. Kita jelas menyesalkan terjadinya peristiwa penembakan itu. Kita juga bersimpati kepada korban dan keluarganya.

Langkah petinggi TNI yang segera menangkap pelaku dan menyelidiki kasus itu sudah benar dan bagus. Apa pun alasannya, menembak mati orang — apalagi sesama anggota TNI — dalam situasi damai, jelas tindakan yang tak bisa dibenarkan. Karena itu kita berharap institusi mengambil sikap tegas dan memberi hukuman yang setimpal kepada pelaku.

Yang lebih penting sebenarnya, TNI mesti segera mengevaluasi kondisi jasmani dan mental anggotanya, terutama yang sedang bertugas di daerah-daerah konflik. Ini penting untuk mengetahui apakah para prajurit dalam keadaan yang sehat dan layak bertugas.

Setiap prajurit, terutama yang sedang bertugas di medan perang, harus 100 persen sehat, baik jasmani maupun mentalnya. Mens sana in corpore sano. Mereka bukan hanya harus siap bertempur melawan musuh, tapi juga menghadapi dirinya sendiri. Mereka mesti siap melawan lawan yang terlihat maupun yang tak kasat mata.

Prajurit itu manusia biasa. Mereka tentu juga punya rasa sedih, jemu, marah, atau bisa juga rindu pada keluarga, istri, pacar, dan anak-anak. Ada kalanya mereka merasa kesepian karena jauh dari sanak saudara. Belum lagi jika di antara mereka ada yang sedang berkonflik dengan kawan atau komandannya. Tentu beban mental yang harus ditanggung lebih berat lagi. Jika beban ini dibiarkan berlarut, ada kemungkinan seorang prajurit mengalami depresi, lalu melakukan tindakan di luar dugaan.

Dalam kondisi seperti itu sudah selayaknya jika mereka diberi bimbingan mental dari orang-orang seperti psikolog, psikiater, pendeta, atau kiai. Bimbingan diberikan secara reguler dan terus menerus.

Memang TNI sudah memiliki direktorat psikologi di setiap angkatan, juga lembaga-lembaga kerohanian. Masalahnya, apakah lembaga pembimbing psikologi dan mental ini menjalankan tugasnya atau tidak? Bila tidak, percuma saja lembaga itu ada. Karena, prajurit toh manusia juga yang mentalnya harus selalu dievaluasi dan disehatkan. Tanpa itu semua, mereka hanya akan menjadi robot yang kehilangan sisi kemanusiaan. ***

(Dimuat di Koran Tempo, 26 Agustus 2004)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s