Home

Roda pesawat yang saya tumpangi menggilas aspal bandara Chiang Kai Sek, Taipei, Taiwan. Pesawat sedikit oleng. Angin terdengar bergemuruh, menandakan sang pilot menegakkan sayap-sayap penahan kecepatan dan menginjak rem. Sesaat kemudian, burung besi itu pun meluncur mulus menuju tempat parkir.

Taipei masih seperti dulu ketika saya pertama kali menjejakkan kaki, lebih dari enam tahun silam. Langit putih di atas, sebentar panas, sebentar mendung. Angin menderu-deru kencang. Jalanan padat, kendaraan bersicepat. Gedung-gedung jangkung. Apartemen berderetan. Satu dua pohon di pinggir jalan.

Pengemudi mobil jemputan milik hotel tempat saya akan menginap, terdiam dalam duduknya di belakang kemudi. Matanya menatap lurus ke depan, nyaris tak berkedip. Tak ada seulas pun senyum di wajahnya. Dingin.

Saya mencoba memecah kebusuan dengan mengajukan satu pertanyaan sederhana dalam bahasa Inggris. “Apa kabar?”. Sia-sia. Ia hanya menengok sebentar ke arah saya, memamerkan tampang bingungnya, lalu menggelengkan kepalanya seraya menggumamkan sesuatu dalam bahasa Cina. Alamak!

Oke, tak masalah. Toh ia tangkas mengemudi, dan, ini yang penting, ia jauh lebih santun ketimbang kebanyakan pengemudi taksi Jakarta yang suka serampangan mengambil jalur di jalan raya. Kalau tak perlu-perlu amat, ia lebih suka tetap di jalur tengah dan mengatur kecepatan tak lebih dari 100 kilometer per jam. Padahal saya yakin Mercedes-Benz yang dikemudikannya pasti mampu dihela sampai 200 kilometer per jam.

Pria yang tak saya ketahui namanya itu– saya cuma melihat deretan huruf Cina di dada kirinyanya – lama kelamaan merasa tak nyaman juga. Ia mencoba menyenangkan saya, penumpangnya. Tangannya bergerak menyalakan CD di dashboard. Sebentar kemudian, sebuah lagu Mandarin mengalun memenuhi kabin. Saya tak tahu siapa penyanyi dan judulnya, apalagi syairnya. Yang jelas bukan F4 yang kondang bukan kepalang di Indonesia itu.

Semula saya mau bertanya, apakah dia mengenal anggota kelompok vokal F4 seperti Vic Zhou dan di mana mereka tinggal, tapi batal. Saya sudah bisa mengira reaksinya: gelengan kepala. Berbeda dengan kebanyakan sopir di Singapura atau Hong Kong, memang jarang ada pengemudi Taiwan yang fasih berbahasa Inggris, bahkan untuk kata-kata yang paling sederhana sekalipun. Akhirnya saya cuma tersenyum dan mengacungkan jempol sebagai tanda terima kasih. Berhasil! Ia balas tersenyum dan menunjukkan jempolnya. Saya pun tenggelam dalam lamunan tentang sepotong senja di Taipei.

Taipei berada di bagian utara Pulau Formosa atau lebih dikenal dengan Taiwan. Dari Cina daratan yang terpisah oleh Selat Taiwan, jaraknya hanya sepeluncuran rudal. Pemerintah Cina memang menyiagakan rudal-rudalnya di seberang untuk menakut-nakuti Taiwan yang dianggapnya sebagai negeri para pembelot.

Berkembang pesat sebagai sebuah ibu kota setelah Perang Dunia II, Taipei dulunya adalah lembah Sungai Tamsui yang subur, tempat tinggal sekelompok kecil petani padi dan sayur mayur.

Sebagai sebuah kota metropolitan modern – populasinya hampir 3 juta orang – Taipei terbagi menjadi 12 distrik. Wilayah kotanya dibelah oleh jalan raya. New York’s Broadway dan Chungshan Rd, misalnya, memisahkan bagian timur dan barat. Chunghsiao dan Pateh Roads membagi wilayah utara dan selatan. Pembagian ini sangat berguna bagi para turis menentukan orientasi.

Jalanan kotanya yang mulus dijejali aneka jenis kendaraan, dari aneka sedan jenis terbaru, bus kota, hingga sepeda motor. “Penduduk Taipei suka naik sepeda motor karena gampang cari tempat parkir,” kata Beral Shen, pemandu wisata yang menemani saya jalan-jalan.

Beral bercerita, harga tanah di Taipei tergolong mahal. Akibatnya, lahan parkir pun terbatas. Orang pun sulit mencari tempat parkir di pusat kota. Mobil harus diparkir di bawah gedung perkantoran, hotel, pertokoan atau mal-mal.

Ongkos parkir pun otomatis mahal, bahkan untuk ukuran penduduk Taipei. Tarif parkir di lahan terbuka, tarifnya NT 30 (sekitar Rp 7.500) per jam atau setara dengan harga segelas bubble tea termurah. Kalau di lahan tertutup, tarifnya NT 100 (hampir Rp 25.000) per jam.

Berbeda dari Jakarta, kebanyakan sepeda motor di Taipei dari jenis skuter matik. Mereknya dan kapasitas mesinnya berbeda-beda memang, tapi jenisnya sama. Saya nyaris tak pernah melihat kendaraan roda dua angin yang menggunakan injakan kaki untuk menghidupkan mesin. Semuanya otomatis. Pengendaranya tinggal memencet tombol starter di setang kanan, putar gas, dan jalan. Persnelingnya pun otomatis. “Kami memang menyukai hal-hal yang praktis,” kata Lydia Liu, pemandu wisata kolega Beral.

Skuter dipakai untuk mengangkut barang, pergi ke sekolah, kuliah, kantor, pasar, atau sekadar jalan-jalan sore. Sudah lazim terlihat di jalanan ada pengendara berpakaian necis, lengkap dengan jas dan dasinya – dan tentu saja helm. Sungguh jauh berbeda dari “kostum resmi” para pengendara sepeda motor Jakarta yang cuma jaket katun atau kulit itu.

Lydia bercerita, penduduk Taiwan suka skuter karena harganya cukup terjangkau dan perawatannya pun mudah. Harga skuter kelas 50 cc, umpamanya, sekitar NT 35 ribu (hampir Rp 9 juta). Kelas 125 cc kurang lebih NT 55 ribu (hampir (Rp 14 juta). “Ada juga yang lebih besar dan mewah, kapasitas 500 cc, lengkap dengan pemutar CD, tapi harganya mahal, sekitar NT 300 ribu (Rp 75 juta),” kata Lydia yang mengaku juga punya satu skuter kecil.

Servis dan perbaikan bukan masalah besar bagi pemilik skuter. Banyak bengkel di sudut-sudut kota yang siap melayani konsumen. Di setiap wilayah paling tidak terdapat 3 – 4 bengkel. Mereka buka sampai larut. Saya pernah melihat ada bengkel yang masih buka sampai pukul 12.00. Padahal di Jakarta, kebanyakan bengkel dan tempat servis sepeda motor menutup pintu selepas Maghrib.

Selain memadati lalu lintas seperti capung yang beterbangan di sawah, skuter memenuhi tempat-tempat parkir di sisi jalan. Lydia bercerita, saat ini ada sekitar satu juta skuter di seantero Taipei. Ini berarti, 1 di antara 3 warga kota memiliki skuter. Bukan main. Bandingkan dengan Jakarta yang populasinya sekitar 11 juta orang. Menurut data di Kepolisian Daerah Metro Jaya, jumlah sepeda motor di Ibu Kota sekitar 3 juta.

Semua kendaraan roda dua bebas parkir. Mereka boleh berlama-lama di suatu tempat tanpa dipungut bayaran. Tak jarang terlihat di tempat parkir ada skuter yang berselimutkan debu. Bagian bawahnya kering, sementara aspal di sekitarnya basah — tanda sudah lama ngetem. Pemiliknya entah ke mana.

Di Taipei, skuter hanya dipakai untuk keperluan pribadi dan tak disewakan. Jadi jangan harap busa menemukan ada tukang ojek naik skuter di sana. Nah, jika ada warga yang hendak jalan-jalan, tapi tak punya kendaraan, mereka busa memilih naik bus kota, kereta listrik, atau taksi.

Kondisi taksi di Taipei bagus dan bersih. Armada taksi rata-rata dari jenis sedan yang masih gres, seperti Toyota Camry, Toyota Altis, Honda Accord, Mazda Lantis, dan sebagainya. Tarifnya? Sekali naik (flag fall) mesti bayar NT 70 (sekitar Rp 17.500) dan setiap 100 meter NT 10 (Rp 2.500).

Taksi-taksi yang pernah saya tumpangi memiliki pemutar CD dan VCD. Hebatnya, ada beberapa taksi yang menyediakan fasilitas karaoke. Penumpang yang ingin menyanyi tinggal memilih lagu. Tak jarang si pengemudi ikut menyumbangkan suara, karena memang tersedia dua mikrofon di dalam taksi.

Penumpang yang kebetulan membawa koleksi CD atau VCD juga boleh memutar lagu pilihannya. Pokoknya bebas, asal bayar. Seperti sore itu. Seorang kawan yang kebetulan membawa sebuah album koleksi lamanya tertarik mencoba. Kami pun menyanyi bersama-sama seiring matahari jatuh di barat. Di jalanan, skuter-skuter berkejaran….

kenang-kenangan perjalanan ke taiwan mei 2004

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s