Home

KEPADA tuan dan puan wakil rakyat yang terhormat di Senayan. Terus terang kami geram dan kecewa melihat tuan dan puan kembali ricuh di ruang sidang kemarin. Julukan apa lagi yang mesti kami berikan kepada Anda sekalian. Anak TK, murid play group? Atau apa? Apakah ada lagi “status” murid di bawah play group?

Sikap tuan dan puan yang emosional, tolak pinggang, dan petantang petenteng seraya berteriak-teriak di ruang sidang kemarin sudah seperti gaya preman jalanan. Apakah tuan dan puan anggota Dewan setara dengan preman jalanan, tentu tidak demikian adanya, meskipun para pemirsa televisi dan pembaca koran banyak yang menggerutu kalau tuan dan puan anggota Dewan sudah ibarat preman-preman pasar.

Tuan dan puan, bukan sekali ini Anda sekalian bertindak memalukan. November tahun lalu, tuan dan puan juga ribut ketika membahas surat Presiden Megawati yang mengusulkan pergantian Panglima TNI. Rasanya juga baru kemarin ketika kami melihat tuan dan puan adu mulut dengan rombongan dari Kejaksaan Agung, bahkan saling gebrak meja dan tuding-tudingan.

Mengapa tuan dan puan kembali melakukan tindakan yang memalukan? Kenapa tuan dan puan di Senayan lebih “bodoh” dari kami, rakyat kebanyakan? Ini kemunduran luar biasa, mengingat kesantunan dan kesopanan para pendahulu tuan dan puan di masa lalu ketika berbeda pendapat.

Sudah tak terhitung pula kami mengingatkan tuan dan puan agar menjaga sikap ketika bersidang. Tahanlah emosi sedikit. Bertindaklah yang elok. Beda pendapat, mempertahankan argumen, tentu saja tidak dilarang. Tapi caranya janganlah sampai memalukan. Tuan dan puan toh bukan preman, murid TK atau play group. Tuan-tuan adalah orang-orang yang terhormat. Teladan bagi rakyat.

Tuan dan puan, bukankah mestinya Anda sekalian segera mengambil sikap untuk menanggapi kenaikan harga bahan bakar minyak yang diambil pemerintah? Mengapa malah ribut tak keruan? Tuan dan puan, kericuhan bukan saja hanya menghabiskan energi, tapi juga tak menyelesaikan masalah. Rakyat sedang menghadapi gejolak harga barang yang melambung akibat naiknya harga BBM. Jutaan rakyat melarat tengah menanti kucuran dana kompensasi pencabutan subsidi BBM. Waktu terus berjalan. Tak ada keputusan. Kenapa tuan dan puan seperti tak peduli?

Tuan dan puan tentu tak sedang berlagak di ruang sidang. Bersikap seolah-olah menentang kenaikan harga BBM hanya untuk menunjukkan bahwa tuan dan puan sedang mengemban amanat hati nurani rakyat. Tuan dan puan tentu juga tak lagi bergaya supaya terlihat kerja keras memperjuangkan nasib rakyat – dan karena itu layak naik gaji. Mohon maaf sebesar-besarnya kalau ternyata begitulah cara tuan dan puan menunjukkan kepedulian. Kami tak tahu.

Yang kami tahu hanyalah ada jutaan rakyat miskin di luar sana yang tak bisa melakukan apa-apa, kecuali menumpahkan kekecewaannya lewat koran dan televisi. Mereka kecewa melihat wakilnya yang cuma bisa petentengan. Kami berharap tuan dan puan menyadari hal ini. Karena kami percaya tuan dan puan masih punya akal sehat dan hati nurani. Wasalam. ***

Dimuat di Koran Tempo, 17 Maret 2005

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s