Home

Rancangan Undang-Undang Antipornografi dan Pornoaksi sesungguhnya tak perlu direvisi. Lebih baik dibatalkan saja. Pembahasan rancangan undang-undang itu hanya memperlihatkan bahwa para penyusunnya kebingungan sejak awal. Para penyusunnya selalu gagal memberi definisi, identifikasi, dan pemahaman tentang konsep pornografi dan pornoaksi yang pas. Padahal hal-hal ini adalah dasar bagi ketentuan-ketentuan di dalamnya.

Draf yang lama menyebut, “Setiap orang dilarang membuat tulisan, suara atau rekaman suara, film atau yang dapat disamakan dengan film, syair lagu, puisi, gambar, foto dan/atau lukisan yang mengeksploitasi orang yang berciuman bibir.” Dengan kata lain, pornografi didefinisikan begitu luas sampai menjangkau ranah kreativitas (film dan sastra), sementara pornoaksi ternyata menjangkau wilayah pribadi hingga hukuman bisa saja menimpa pasangan yang berciuman!

Definisi itu diprotes orang ramai karena bisa membuat kesenian Indonesia macet. Para pelukis bakal waswas. Sastra Indonesia akan kehilangan puisi karya penyair macam Chairil, Rendra, dan Sutardji. Koreografi Gusmiati Suid atau Maruti akan terbungkam, dan dunia film kita, yang pernah melahirkan karya Teguh Karya, Arifin C. Noer, dan Garin Nugroho, akan tiarap ketakutan. Juga dunia periklanan, dunia busana, dan media. Sepasang suami-istri pun pasti takut berciuman di muka publik karena itu dianggap sebagai pornoaksi. RUU Pornografi dianggap sebagai pintu bagi negara untuk masuk ke wilayah pribadi warganya.

Memang kemudian ada “penyempurnaan”, yang dicapai dalam rapat tim perumus sejak Jumat pekan lalu di Puncak, Jawa Barat. Para penyusunnya sepakat mengembalikan makna pornografi ke bahasa aslinya, Latin, yaitu porne (pelacur) dan graphos (gambar atau tulisan). Tapi revisi ini pun tetap belum jelas batasannya sehingga masih membingungkan. Katakanlah kelak ada seorang sutradara yang membuat film tentang seorang pelacur. Apakah sang sutradara ini bisa digolongkan membuat karya pornografi?

Kesepakatan Panitia Khusus RUU Pornografi menghapus sanksi pidana dalam kasus pornografi dan pornoaksi, lalu memindahkannya ke dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, kian menunjukkan adanya kebingungan itu. Kita pun semakin sulit mengerti. Bagaimana mungkin undang-undang yang mengatur suatu tindak pidana tak mencantumkan sanksinya?

Bila penyusun RUU Pornografi mau menggunakan undang-undang lain untuk mengatur sanksi pidananya, berarti rancangan itu tak diperlukan lagi. Gunakan saja undang-undang yang sudah ada, yang jelas aturan dan saksi pidananya, yaitu KUHP. Toh, Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia sedang menyusun revisi RUU KUHP yang baru. Lebih baik ditunggu saja hasilnya. Seandainya nanti dalam RUU KUHP itu soal pornografi dan pornoaksi dianggap belum sempurna, bisa diusulkan perbaikan. Tak perlu ada undang-undang baru yang khusus membahas soal pornografi dan pornoaksi. Tak ada gunanya membuat dua rancangan undang-undang berbeda untuk mengatur sesuatu yang sama.

Diterbitkan di Koran Tempo, 14 Maret 2006

Advertisements

3 thoughts on “Batalkan RUU Pornografi

  1. Do you want free porn? Contact my AIM SN ‘abunnyinpink’ just say ‘give me some pics now!’.

    No age verification required, totally free! Just send an instant message to AIM screen name “abunnyinpink”.

    Any message you send is fine!

    AIM abuse can be reported here.

  2. pornografie en tololgrafie
    gue benar-benar muak dengan ribut-ribut tentang pornografi dan UU APP yang penuh dengan pro dan kontra saat ini. entah siapa yang menghembuskan isu diterbitkannya UU APP di Indonesia sampe kasusnya sekarang merembet kemana-mana, dari masalah demo yang pro dan demo yang kontra, sampe merembet ke aksi pengrusakkan kantor majalah redaksi Play Boy Indonesia, en demo ke rumah penyanyi dangdut si Inul.
    guys, gue berharap masyarakat kita tuh berpikir lebih terbuka. porno dan tidak porno hanyalah berasal dari pikiran kotor seseorang yang melihat / mendengar / merasakan/ suatu objek. trus akibat dari permasalahan hal porno-porno ini merembet lha ke media majalah, merembet pula ke dunia hiburan, nyalahin penyanyi dangdut yang erotis lha, nyalahin majalah playboy lha, en kurang ajarnya malah bawa-bawa nama Amerika lha, dunia barat lha, tar lama-lama bawa-bawa nama agama lha, suku lha. semua jadi kebawa-bawa ikut disalahin.
    please deh wahai indonesian people, lo harus liat lo tuh hidup di tahun berapa sekarang? jaman batu, apa jaman jurassic, apa jaman majapahit, apa jaman globalisasi, jaman informasi, atau jaman apa? lo ga bisa nutup diri kaya kodok didalam tempurung (tempurung mah masih gede, dalam mangkok kali). lo ga bisa hidup tanpa menerima perkembangan dan perubahan dunia. fashion tuh berubah tiap hari, informasi tuh bertambah tiap mikro detik, teknologi juga berubah, pendidikan juga berubah, demikian dengan kreativitas penyanyi dangdut yang sah-sah aja kalo berubah cara goyangnya (daripada goyang pas-pasan sambil buka kancing memperlihatkan bulu dada doank), gaya hidup berubah, pakaian berubah. emangnya lo mau pake kebaya ama kain batik jawa di jaman mini skirt gene? tar lo dikira dari planet aneh ama orang-orang di sekeliling lo.
    guys, gue tau kalo video porno, foto telanjang, striptease dancer punya dampak negatif buat seseorang. tapi yang mau gue mau tanya ama lo adalah… LO PUNYA IMAN GA? PUNYA AGAMA GA? Lo bisa ga membedakan mana yang dosa dan mana yang membuahkan amal? seberubah apapun dunia, kalo lo punya prinsip, punya keyakinan, punya sesuatu yang lo sebut TUHAN dan yang selalu lo jalankan perintahNya, gue yakin lo justru akan menjadi cahaya kecil yang menerangi sekeliling lo. masalahnya adalah… Lo terpengaruh ama pornografinya itu ga? atau lo siap mengajarkan tentang kebenaran dan cara hidup yang soleh yang Tuhan lo ajarkan kepada diri loe.
    buat gue PlayBoy dan Inul ga salah. mereka sosok yang benar di tengah pola pikir masyarakat yang salah. mereka tidak pornografi, hanya mereka terkena akibat dari tololgrafinya pola pikir yang ga open minded seperti masyarakat kita.
    peace.

  3. Pornografi dan pornoaksi hanyalah bagian dari pilihan kehidupan…
    Tahu kejelekannya maka mengerti pula konsekwensinya….
    Tahu manfaatnya maka mengerti pula keuntungannya….
    Apabila ingin memperbaiki moral bangsa, mulailah dari rumah anda…
    Mulailah dari putra putri kita, ajarkan mereka tentang baik dan buruk….
    Apabila sudah cukup bekal, maka buat apa UU Anti-Pornografi?….
    Mungkin ini hanyalah bagian dari pilihan, memilih yang baik atau yang buruk….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s