Home

Sungguh sangat disesalkan tim Indonesia batal mengikuti Olimpiade Matematika di Slovenia. Apalagi penyebabnya bukan lantaran mereka tak siap bertanding. Bukan karena mereka jeri sebelum maju. Bukan pula karena ada anggota tim yang sakit. Tim batal bertarung hanya karena terlambat memperoleh visa masuk Slovenia.

Departemen Pendidikan Nasional sebagai panitia yang mengurus visa untuk tim itu mengaku sudah berupaya sedini mungkin mengajukan permohonan. Setidaknya tiga kali departemen tersebut mengaku telah mengirimkan surat. Surat pertama dikirim pada 20 Juni 2006 lewat Kedutaan Austria di Jakarta karena Slovenia tak mempunyai kantor perwakilan di Jakarta. Namun, sampai 6 Juli belum ada jawaban.

Panitia lalu mengajukan permohonan lagi, lengkap dengan surat pengantar dari Departemen Luar Negeri RI lewat kedutaan yang sama. Ketika dicek pada 7 Juli, Kedutaan Austria sebagai perantara belum mendapat calling visa dari negara pecahan Yugoslavia itu. Austria hanya dapat mengeluarkan visa apabila ada jawaban dari negara yang dituju. Baru pada 12 Juli, visa yang diminta akhirnya keluar bersamaan dengan dimulainya olimpiade.

Sungguh mengherankan sebuah lembaga tinggi negara ternyata tak becus mengurus visa. Para birokrat departemen yang belakangan ramai dikritik ihwal penyelenggaraan ujian nasional itu mestinya tahu bahwa Slovenia tak memiliki kantor perwakilan di Indonesia. Mereka harus mengantisipasi kemungkinan terburuk, seperti perpanjangan waktu pengurusan visa.

Toh, bukan baru kali ini saja Olimpiade Matematika berlangsung. Pula, ini bukan untuk pertama kalinya Indonesia ikut. Tim Indonesia bahkan sudah kerap berpartisipasi dan meraih penghargaan internasional dalam ajang sejenis. Hari-hari ini pun ada beberapa anak Indonesia yang tengah berjuang di gelanggang Olimpiade Fisika Internasional di Singapura. Kenapa Departemen Pendidikan bisa teledor begini?

Keikutsertaan anak-anak Indonesia ke ajang internasional itu penting untuk memberi warna lain di tengah suramnya situasi dalam negeri belakangan ini. Ada berita tentang kekeringan dan ancaman paceklik, tentang lesunya perekonomian, penimbunan senjata gelap, dan sebagainya. Partisipasi mereka bisa menjadi cahaya di ujung lorong.

Anak-anak peserta olimpiade itu tentu bukan anak sembarangan. Mereka anak-anak brilian hasil seleksi nasional yang ketat dan bertahap. Tentu tak sedikit waktu, tenaga, pikiran, juga dana yang sudah dikeluarkan, baik oleh peserta maupun pembimbingnya selama enam bulan di pemusatan latihan. Namun, semua pengorbanan itu jadi sia-sia sekarang. Mereka tak mendapat kesempatan membuktikan hasil latihan di lomba yang sesungguhnya.

Para birokrat itu mestinya menjadikan “skandal matemavisa” ini sebagai pelajaran yang sangat mahal dan memastikan agar kejadian yang sama tak terulang lagi. Benahi segera sistem administrasi departemen ini. Jangan sampai nanti timbul kesan buruk: mengurus visa saja tak becus, apalagi mengurus masalah pendidikan di Indonesia yang jauh lebih kompleks.

Diterbitkan di Koran Tempo, 14 Juli 2006

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s