Home

Hasil Indonesia Open yang berakhir Ahad lalu amat memalukan. Tak satu pun medali emas diraih oleh tim Merah Putih. Kekalahan telak ini merupakan tanda bahaya bagi perbulutangkisan kita. Maka Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia perlu melakukan evaluasi total terhadap pembinaan olahraga tepuk bulu ini.

Prestasi bulu tangkis kita benar-benar merosot ke titik terendah. Sejak turnamen tersebut diselenggarakan pada 1982, ini pertama kalinya kita tak kebagian medali emas. Satu-satunya hiburan datang dari pasangan ganda campuran Nova Widianto-Lilyana Natsir yang meraih medali perak. Di final mereka kalah dari pasangan Zheng Bo-Gao Ling dari Cina.

Tanda-tanda ambruknya bulu tangkis kita sebenarnya sudah lama muncul. Sebelumnya, pebulu tangkis kita telah sering keok di pelbagai turnamen. Dalam daftar terbaru peringkat pemain dunia yang dikeluarkan IBF pun, cuma pasangan Nova Widianto-Lilyana Natsir yang masuk lima besar, persisnya di urutan ketiga.

Kemerosotan prestasi itu tampak mencolok karena pembinaan bulu tangkis kita bagai berjalan di tempat, sedangkan kekuatan baru bermunculan. Sejak dipertandingkan di Olimpiade 1992, olahraga ini mulai dikembangkan di banyak negara. Amerika Serikat bahkan sampai perlu mengimpor pemain pelatih asing demi memajukan prestasi bulu tangkisnya.

Jangan heran pula jika Prancis dan Bulgaria kini juga mulai unjuk gigi. Padahal sebelumnya, mereka nyaris tak terdengar di kancah persaingan bulu tangkis dunia. Ironisnya, Indonesia justru mengekspor pelatih andalannya. Beberapa pemain juga lebih suka hengkang ke luar negeri.

Banyak soal yang membuat badminton di negeri ini semakin jeblok. Salah satunya, kaderisasi yang terputus. Kita pernah memiliki tim bagus pada era Liem Swie King pada 1970-an hingga 1980-an. Kemudian lahir lagi generasi Ardy B. Wiranata, Alan Budi Kusuma, dan Susi Susanti. Kegemilangan mereka dilanjutkan pasangan ganda Ricky dan Rexy, lalu Taufik Hidayat. Tapi, setelah itu, kita mengalami paceklik prestasi. Prestasi tim putri malah sudah tenggelam lebih awal. Tak ada lagi penerus Susi yang sanggup bersaing di tingkat dunia.

Jagoan-jagoan baru tidak muncul karena tiada pembinaan yang serius oleh PBSI. Organisasi ini seolah hanya menampung bibit-bibit pemain yang sudah matang, tapi tidak memikirkan pembinaannya di daerah-daerah. Padahal penggemblengan pada usia dini merupakan kunci sukses meraih prestasi tinggi dalam olahraga, termasuk bulu tangkis.

Merosotnya pembinaan itu bisa kita lihat dengan kasatmata dari semakin sepinya turnamen kelompok usia. Kejuaraan nasional bulu tangkis memang masih ada setahun sekali. Namun, beberapa turnamen seperti yang diadakan oleh Milo dan Ardath di beberapa daerah sudah tak ada lagi.

PBSI harus bekerja keras untuk mengevaluasi sekaligus membenahi pembinaan bulu tangkis. Jika tidak, bersiap-siaplah tim kita sering dipermalukan di berbagai ajang dunia dalam kurun waktu yang lama.

Advertisements

3 thoughts on “Ambruknya Bulu Tangkis Kita

  1. mas…

    monggo tulisan ini diteruskan saja ke PBSI. semoga mampu membuka pandangan bapak2 pejabat ituh 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s