Home

Proses seleksi calon pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi yang berlangsung belakangan ini sungguh memprihatinkan. Panitia Seleksi dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat terkesan tidak mau memilih figur yang bersih, tapi malah berusaha mengelus-elus calon yang integritasnya diragukan.

Kalau dibiarkan, kecenderungan itu amat berbahaya bagi masa depan KPK. Padahal lembaga ini merupakan ujung tombak buat memerangi korupsi. Di tengah kurang optimalnya peran aparat kepolisian dan kejaksaan, KPK beberapa kali menunjukkan peranannya yang besar. Itu karena sebagian besar anggota pemimpin KPK sekarang memiliki integritas yang tinggi.

Setelah masa kerja mereka habis pada akhir bulan ini, belum tentu kita mendapatkan pemimpin KPK yang “bersih” untuk periode 2007-2011. Sebab, integritas sebagian calon yang tampil sekarang diragukan. Bahkan seorang calon dari kalangan kejaksaan pernah menawarkan amplop berisi uang kepada wartawan Tempo yang mewawancarainya.

Panitia Seleksi berusaha mati-matian memasukkan calon itu dalam daftar yang dikirim ke parlemen dengan alasan harus ada perwakilan dari pemerintah. Mereka menafsirkan secara salah hal yang disebut dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK itu. Mereka bahkan mengaitkannya dengan Pasal 21 ayat 4, yang menyatakan bahwa pemimpin KPK adalah penyidik dan penuntut. Hal itu kemudian ditafsirkan bahwa sebagian pemimpin lembaga ini harus berasal kejaksaan dan kepolisian.

Penafsiran itu salah kaprah karena Pasal 21 mengatur mengenai fungsi pemimpin KPK, bukan unsurnya. Soal komposisi pemimpin, undang-undang itu sebenarnya hanya menekankan perlunya unsur dari masyarakat dan pemerintah, tanpa menyebutkan asal instansi. Dengan demikian, sebetulnya wakil dari pemerintah untuk pemimpin KPK tidak harus dari kejaksaan atau kepolisian.

Cara berpikir yang keliru atau sengaja membuat kabur undang-undang itu menjadikan pilihan calon pemimpin KPK yang tersedia seolah-olah amat terbatas. Para anggota parlemen hanya terfokus pada pertanyaan: mana yang paling baik di antara satu jaksa dan jaksa yang lain, di antara satu polisi dan polisi yang lain. Mereka cenderung melupakan masalah kompetensi, integritas, dan independensi para calon.

Kita masih berharap kalangan DPR yang akan memilih calon yang telah disaring Panitia Seleksi tidak terseret dalam kecenderungan itu. Memilih figur-figur yang bersih untuk pemimpin KPK amat penting demi meneruskan perang melawan korupsi. Jika kita kesulitan membersihkan lantai dengan sapu yang kotor, susah juga rasanya memberantas korupsi di negeri ini dengan mengandalkan pemimpin KPK yang tidak bersih.

Harapan itu perlu kita garis bawahi mengingat ada kekhawatiran DPR justru akan menjegal calon-calon yang bagus. Di tengah maraknya tudingan bahwa parlemen termasuk lembaga yang paling rawan korupsi, kini saatnya para wakil rakyat membuktikan bahwa tuduhan itu salah.

Advertisements

One thought on “Pilih Sapu yang Bersih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s