Home

Keadaan sulit kini dihadapi PT PLN. Harga minyak yang bertengger pada kisaran US$ 90 per barel menyebabkan biaya produksi perusahaan ini naik. Akibatnya, PLN semakin merepotkan negara karena dipastikan membutuhkan subsidi yang lebih besar.

Sebagai gambaran, PLN membutuhkan 10,5 juta kiloliter bahan bakar minyak untuk pembangkit bertenaga solar. Jumlah pembangkit berbahan bakar minyak ini mencapai 36 persen dari seluruh pembangkit milik PLN. Dengan asumsi harga minyak US$ 80 per barel saja, nilai bahan bakar tersebut setara dengan Rp 65 triliun. Ditambah bahan nonminyak, total belanja bahan bakar PLN mencapai Rp 84 triliun.

Belanja bahan bakar tersebut tidak dapat ditutup oleh penjualan listrik PLN. Penjualan listrik pada 2008 hanya akan mencapai Rp 79,2 triliun. Padahal, di luar biaya bahan bakar, PLN juga harus menutup utang serta biaya administrasi dan operasional. Untuk menutup defisit anggaran, sekarang PLN membutuhkan subsidi sekitar Rp 70 triliun atau dua kali lipat lebih subsidi tahun lalu.

Pemerintah telah berjanji akan memenuhi permintaan subsidi yang membengkak itu. Kemurahan ini semestinya memacu petinggi PLN meningkatkan kinerjanya. Sebab, perusahaan yang menguasai penjualan setrum ini selalu merugi. Tahun lalu PLN rugi Rp 1,5 triliun dan setahun sebelumnya rugi Rp 1,8 triliun.

Kerugian itu seharusnya tidak terjadi. Pemerintah menanggung subsidi bagi pelanggan kelas bawah yang dikenai tarif murah. Semestinya PLN bisa menarik untung dari kalangan industri dengan menetapkan tarif yang layak. Apalagi kini banyak industri yang mengandalkan pasokan listrik dari PLN setelah harga bahan bakar minyak naik.

Banyak hal yang harus dibenahi agar kinerja perusahaan ini membaik, di antaranya pemerintah mesti berani membersihkan korupsi di PLN. Jangan seperti yang terjadi sekarang, berbagai kasus korupsi dibiarkan menguap tanpa ada petinggi PLN yang dikirim ke penjara. Perusahaan ini juga harus serius membenahi kasus pencurian listrik yang banyak terjadi di mana-mana. Kebocoran sentrum ini sering melibatkan pegawai PLN sendiri.

Pemborosan diakibatkan pula oleh kesalahan manajemen yang membangun pembangkit listrik tanpa perencanaan jelas. Banyak pembangkit PLN yang seharusnya menggunakan gas dan batu bara, tapi malah menggunakan bahan bakar minyak. Seandainya saja seluruh pembangkit listrik pemakai bahan bakar minyak diganti dengan yang menggunakan batu bara, biaya energinya hanya sekitar Rp 9 triliun atau berarti penghematan lebih dari Rp 40 triliun setahun. Total pembangkit listrik berbahan bakar batu bara kini baru mencapai 33 persen. PLN harus segera memperbanyak.

Hanya dengan pembenahan yang serius, PLN akan terhindar dari kerugian. Jika kondisi perusahaan ini membaik, saat itulah pemerintah bisa mengurangi subsidi. Tarif listrik untuk masyarakat bawah pun bisa dinaikkan secara bertahap seiring dengan peningkatan kemakmuran rakyat.

Advertisements

One thought on “Krisis di PLN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s