Home

Penangkapan jaksa Urip Tri Gunawan merupakan upaya yang amat berarti bagi pemberantasan korupsi. Pasalnya, ia mewakili salah satu lembaga yang selama ini sulit dibersihkan dari praktek jahat, seperti suap dan pemerasan. Jika tuduhan bahwa si jaksa terlibat suap bisa dibuktikan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, lalu ia dihukum seberat-beratnya, ini bisa menimbulkan efek jera bagi kalangan penegak hukum yang korup.

Lembaga penegak hukum, seperti kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman, memang menduduki peringkat atas dalam melakukan praktek korupsi. Itulah hasil survei Transparency International Indonesia yang dipublikasikan Desember lalu. Urutan berikutnya adalah Dewan Perwakilan Rakyat. Karena semua lembaga itu praktis tidak ada yang mengontrol dengan ketat, langkah KPK yang berani mengusut praktek korupsi di sana patut kita dukung.

Belum tentu jaksa Urip bersalah. Tapi biasanya KPK tidak sembarangan menangkap orang jika tidak menemukan indikasi awal yang kuat. Apalagi kali ini di tempat penangkapan ditemukan barang bukti uang US$ 600 ribu atau hampir Rp 6 miliar. Alasan bahwa uang itu merupakan hasil jual-beli permata dan tak ada hubungannya dengan jabatan ataupun perkara yang sedang ditanganinya akan bisa dicek kebenarannya.

Yang pasti, seorang wanita yang ditangkap bersama sang jaksa dikenal dekat dengan Sjamsul Nursalim, bekas pemilik PT Bank Dagang Nasional Indonesia. Sjamsul masih memiliki persoalan dengan kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Karena itulah, hingga kini ia lebih suka berada di luar negeri dan belum berani pulang ke Indonesia.

Adapun Urip adalah jaksa yang memimpin penyelidikan kasus BLBI, khususnya yang menyangkut kasus Sjamsul. Kebetulan pula beberapa hari sebelumnya Kejaksaan Agung mengumumkan penghentian pengusutan semua kasus BLBI, termasuk juga kasus Sjamsul. Wajar jika petugas KPK menduga uang yang ditemukan dalam penggerebekan itu sebagai suap atas kasus yang ditangani Urip.

Jika dugaan itu terbukti, Jaksa Agung mesti meninjau kembali keputusan penghentian penyelidikan yang diumumkan pekan lalu. Kami menyarankan agar kejaksaan memeriksa dan merombak tim jaksa perkara BLBI. Sebab, kecil kemungkinan Urip bertindak sendirian. Koran ini juga berharap KPK mengusut tuntas kasus Urip sekaligus menjerat semua yang terlibat.

Penangkapan Urip sejauh ini menunjukkan bahwa Antasari, yang bekas jaksa, tidak pandang bulu dalam memberantas korupsi. Pada awal masa kerjanya, Antasari telah berani menangkap tersangka koruptor dari kalangan kepolisian, yakni Rusdihardjo, mantan Duta Besar RI untuk Malaysia. Kali ini giliran orang kejaksaan sendiri yang ia gerebek.

Antasari tak boleh berhenti sampai di sini. Masih banyak kasus korupsi lain yang melibatkan pejabat publik, misalnya kasus kucuran dana Bank Indonesia ke kalangan anggota DPR. Seperti juga instansi penegak hukum, parlemen termasuk lembaga terkorup. Tapi baru ada dua tersangka dari Senayan. Seharusnya KPK berani pula menyeret lebih banyak wakil rakyat yang kecipratan dana BI.

Advertisements

3 thoughts on “Siapa Setelah Jaksa

  1. bukannya kecurigaan atas antasari diangkut sama media… kan mau masukin berita bisa bayar… kecurigaan tersebut bisa aja cuma taktik politik…

    hare gene… media juga gak bisa dipercaya… malahan gak ada orang yang bisa dipercaya…

    percaya sama Tuhan… dan diri sendiri tentunya… huehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s