Home

Apa pun alasannya, pelemparan bom molotov ke kantor Partai Keadilan Sejahtera Bandung merupakan aksi kriminal yang harus dikecam. Pelakunya kemungkinan besar hanyalah orang yang hendak memancing di air keruh pascapemilihan kepala daerah Jawa Barat pada Ahad lalu. Ketiga kubu yang bersaing sebaiknya menahan diri dan tak ikut terpancing.

Hasil akhir pemilihan kepala daerah Jawa Barat memang tak bisa menyenangkan semua pihak. Namun, sebagaimana proses demokrasi di mana pun, pemilihan langsung merupakan satu-satunya cara yang sah dan bertanggung jawab. Seandainya ada pihak yang kecewa dan menolak hasilnya, mereka sebaiknya menyalurkan protes melalui mekanisme yang diatur undang-undang.

Perhelatan politik itu secara umum berjalan baik. Meski masih ada kekurangan di sana-sini, warga sudah menunaikan haknya secara tertib. Kita layak memberikan selamat kepada warga Jawa Barat, yang untuk pertama kalinya berhasil melaksanakan pemilihan langsung kepala daerah dengan relatif aman.

Kejutan lain di luar bom molotov adalah tampilnya pasangan Ahmad Heryawan (Partai Keadilan Sejahtera)-Dede Yusuf (Partai Amanat Nasional) sebagai pemenang sementara. Berdasarkan penghitungan suara hingga kemarin, mereka mengungguli dua pasangan kandidat lainnya, Agum Gumelar (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan)-Nu’man Abdul Hakim (Partai Persatuan Pembangunan) dan Danny Setiawan (Partai Golkar)-Iwan Sulanjana (Partai Demokrat).

Keunggulan pasangan Hade (Heryawan-Dede) semakin menegaskan bahwa pasangan yang didukung partai besar belum tentu meraih suara terbanyak. Buktinya, pasangan Agum-Nu’man, yang disokong koalisi tujuh partai besar, hanya menempati urutan kedua. Publik tak terpengaruh oleh dukungan partai. Para pemilih justru menginginkan munculnya tokoh-tokoh baru, baik dari partai maupun nonpartai. Fenomena ini mirip yang terjadi ketika warga Kabupaten Tangerang lebih memilih pasangan Ismet Iskandar-Rano Karno sebagai bupati dan wakil bupati yang baru.

Hasil pemilihan kepala daerah Jawa Barat mestinya membuat partai-partai besar becermin dan melakukan evaluasi. Sudah bukan saatnya lagi mereka menjual tokoh-tokoh lama. Pemilih sekarang lebih menyukai tokoh yang baru, yang muda, yang diharapkan bisa membuat perubahan. Partai-partai sebaiknya memperbaiki sistem kaderisasi dengan mengutamakan tokoh-tokoh baru dan berpotensi. Tokoh baru adalah harapan baru bagi pemilih.

Partai besar kerap memanfaatkan pemilihan kepala daerah sebagai sasaran antara kepentingan politiknya. Mereka menentukan calon kepala daerah secara sentralistis dengan harapan bisa mempersiapkan basis kekuatan untuk menggalang pemilih dalam pemilu Dewan Perwakilan Rakyat dan presiden. Kepentingan mencari pemimpin yang cocok untuk tiap daerah dinomorduakan. Bila sikap semacam ini diteruskan, partai-partai besar akan ditinggal oleh pemilihnya, seperti yang terjadi di Jawa Barat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s