Home

Korps kejaksaan terkesan mulai serius memerangi korupsi. Upaya yang perlu didukung ini terlihat dari langkah tegas yang dilakukan Jaksa Agung Hendarman Supandji. Sebanyak 25 kepala kejaksaan negeri dicopot karena dinilai tak memenuhi target penanganan kasus korupsi setiap tahun. Baru-baru ini Kejaksaan Agung juga membentuk Satuan Tugas Khusus Tindak Pidana Korupsi.

Kita amat berharap penggantian sejumlah kepala kejaksaan mampu mempercepat pemberantasan korupsi di daerah. Harus diakui, di banyak daerah, korupsi, termasuk yang berkaitan dengan pembalakan liar, dibiarkan merajalela. Jika kejaksaan serius memberantasnya, tak perlu lagi Komisi Pemberantasan Korupsi turun hingga ke pelosok Tanah Air seperti yang terjadi sekarang.

Begitu pula pembentukan Satgas Antikorupsi. Di atas kertas langkah ini cukup bagus, tapi efektivitasnya bergantung pada keseriusan mereka bekerja. Beranggotakan 50 jaksa, Satgas dibagi dalam lima bidang, yakni bidang perbankan dan keuangan, pengadaan barang dan jasa, informatika dan teknologi, serta pelayanan umum, publik, dan sektor lainnya. Satgas ini melengkapi sejumlah tim khusus antikorupsi yang pernah dibentuk kejaksaan, di antaranya Tim 35, yang menangani kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia.

Memang sudah seharusnya korps kejaksaan menempuh segala cara untuk terus memberantas korupsi, seraya memperbaiki kualitas dan integritas anggotanya. Korupsi telah berakar-urat dan kian canggih modusnya. Namun, belum terlihat terobosan kejaksaan dalam membasmi tindak pidana korupsi. Dulu kejaksaan berhasil menjebloskan koruptor kakap seperti Bob Hasan ke penjara. Tapi setelah itu belum terdengar lagi prestasi yang menunjukkan keseriusan kejaksaan membasmi korupsi.

Dengan kinerja yang terkesan seadanya, citra instansi ini pun merosot. Bahkan menurut hasil survei Transparency International Indonesia yang dipublikasikan Desember lalu, kejaksaan merupakan salah satu lembaga terkorup, bersama kepolisian dan kehakiman. Buruknya citra lembaga ini antara lain akibat ulah beberapa aparatnya yang menyeleweng, seperti jaksa Urip Tri Gunawan, yang ditangkap oleh KPK. Ia diduga menerima suap dari Artalyta dalam kasus BLBI. Padahal jaksa Urip adalah anggota Tim 35, yang menangani kasus tersebut.

Pembentukan Satgas Antikorupsi berpeluang memulihkan citra dan integritas kejaksaan. Lewat satuan ini korps kejaksaan diharapkan mampu kembali menegakkan hukum dengan cara yang benar-benar bersih, dan tak akan ada lagi praktek tercela, seperti penyuapan dan jual-beli perkara. Namun, harapan ini sulit diwujudkan jika tak diikuti dengan kesungguhan dalam bekerja.

Pembentukan Satuan Tugas juga bakal sia-sia jika kelakuan dan integritas anggotanya tak berubah. Satuan ini harus mampu membuktikan bahwa kejaksaan memang serius membasmi tindak pidana korupsi dan tak gampang tergoda suap. Jangan sampai kasus seperti yang dilakukan jaksa Urip terulang lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s