Home

Perkara yang tak jelas sebab-akibatnya bisa memicu rumor dan prasangka buruk. Bila dibiarkan, ada kemungkinan akan menjadi bola liar. Begitu juga kasus Maftuh Fauzi. Mahasiswa Universitas Nasional ini meninggal setelah tiga hari dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta. Penyebab kematian Fauzi harus dijelaskan secara gamblang ke publik karena sampai sekarang masih simpang-siur.

Penjelasan itu penting karena mahasiswa 27 tahun tersebut boleh jadi meninggal lantaran dihajar polisi. Ia ditangkap polisi dalam serangan fajar di kampus Unas pada 24 Mei setelah berunjuk rasa menentang kenaikan harga bahan bakar minyak. Sesudah keluar dari tahanan, Fauzi mengeluh kepalanya pusing hebat. Ia lalu dirawat di Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia. Hasil roentgen rumah sakit itu menunjukkan ada trauma di kepalanya selama dua pekan. Teman-temannya menduga trauma itu diakibatkan oleh pukulan polisi sewaktu meringkus Fauzi.

Karena kurang peralatan, dokter di UKI lalu merujuk korban ke Rumah Sakit Pusat Pertamina. Di rumah sakit inilah Fauzi mengembuskan napas terakhir. Anehnya, menurut dokter Widya Sarkawi, Wakil Direktur Medis RSPP, korban meninggal karena infeksi berat pada fungsi sistemiknya akibat HIV yang menyerang seluruh tubuh. Dua wilayah paru-parunya terinfeksi sehingga sistem perputaran napas tak normal. Sistem kekebalan tubuh pun menurun dan berujung pada kematian. Tiada tanda-tanda kekerasan di tubuh Fauzi. Hasil CT-scan kepalanya pun tak menunjukkan kelainan.

Perbedaan hasil pemeriksaan itulah yang memicu dugaan adanya rekayasa dan menyulut kemarahan mahasiswa Universitas Nasional. Mereka menuding dokter RSPP berkomplot dengan polisi dan memanipulasi hasil pemeriksaan. Teman-teman Fauzi lalu meminta agar jenazah mendiang diotopsi sebelum dimakamkan di kampungnya. Hasil otopsi tim dari Universitas Diponegoro dan Universitas Jenderal Sudirman memperlihatkan Fauzi menderita luka memar dan infeksi akut paru. Kedua luka itu sudah sembuh. Hasil otopsi ini memperkuat hasil pemeriksaan Rumah Sakit UKI dan RSPP, namun tak bisa menjelaskan penyebab kematian Fauzi.

Itu sebabnya, langkah Komisi Nasional Hak Asasi Manusia mengusut kasus ini patut disambut baik. Jangan sampai ada satu pun hal yang ditutup-tutupi. Untuk itu, polisi perlu membuka diri kepada Komnas HAM. Penyelidikan bisa dimulai dengan mewawancarai polisi yang menyerbu Unas, teman dan keluarga korban, juga para dokter yang memeriksa. Perlu direkonstruksi kembali kejadian dari awal hingga Fauzi meninggal.

Pemeriksaan yang tuntas tak hanya akan menjernihkan masalah, tapi juga memberi kepastian hukum. Akan jelas ihwal siapa yang bersalah dan harus bertanggung jawab. Jangan sampai kasus meninggalnya seorang mahasiswa ini menyebarkan prasangka, misalnya adanya konspirasi melawan penolakan kenaikan harga minyak. Kematian Fauzi akan ditanggapi secara wajar bila tak ada lagi misteri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s