Home

Sungguh enak jadi konglomerat pengemplang dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia seperti David Nusa Wijaya. Meski dihukum empat tahun penjara, plus mengembalikan uang Rp 1,29 triliun, ia cepat sekali mendapat pembebasan bersyarat. Bahkan David belakangan ini leluasa bepergian ke Hong Kong sekalipun belum melunasi uang pengganti. Ini jelas mengganggu rasa keadilan orang ramai.

Repotnya, hingga sekarang tak ada satu pun pejabat yang bertanggung jawab atas kepergian David Nusa. Direktur Jenderal Lembaga Pemasyarakatan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Untung Sugiono mengakui status David bebas bersyarat. Menurut dia, jika ada izin dari Kepala Balai Pemasyarakatan, si narapidana boleh ke luar negeri.

Persoalan muncul karena, berdasarkan Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, wewenang memberikan izin ke luar negeri hanya dimiliki Menteri Hukum. Hal ini juga ditegaskan Jaksa Agung Muda Intelijen Wisnu Subroto dan Jaksa Agung Hendarman Supandji. Jaksa Agung mengatakan Menteri Hukum yang paling tahu soal kepergian David. Anehnya, Menteri Hukum Andi Mattalata sejauh ini mengaku tidak pernah mengizinkan si narapidana ke luar negeri.

Sengkarut kasus David sekali lagi menunjukkan betapa para pejabat kurang serius, bahkan terkesan mempermainkan kasus BLBI. Mereka terlihat memanjakan taipan-taipan yang tersangkut kasus BLBI, yang merugikan negara sedikitnya Rp 600 triliun. Selain memberi kelonggaran mengembalikan utang negara dengan pelbagai macam skema, penegak hukum cenderung gampang berkongkalikong para pengemplang itu.

Lihat saja kasus Sjamsul Nursalim. Pemilik Bank Dagang Nasional Indonesia itu berutang Rp 28,4 triliun dari BLBI. Sjamsul membayar dengan menyerahkan aset, antara lain, Gajah Tunggal Petrochem, Gajah Tunggal Tyre, dan tambak udang Dipasena Citra Darmaja. Semuanya ditaksir bernilai Rp 27,4 triliun. Belakangan diketahui bahwa seluruh aset yang diserahkan cuma Rp 5,4 triliun. Tambak udang Dipasena di Lampung, yang ditaksir seharga Rp 20 triliun, ternyata nilainya sekitar Rp 5 triliun saja.

Status Sjamsul pun berubah-ubah seiring dengan perubahan pemerintahan. Jaksa Agung M.A. Rachman pernah memberinya surat perintah penghentian penyidikan (SP3). Di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pemberian SP3 terhadap Sjamsul Nursalim ditinjau kembali. Tapi tim khusus BLBI yang dibentuk Jaksa Agung Hendarman Supandji memutuskan menghentikan perkara Sjamsul.

Dia pun kembali melenggang bebas, sampai kemudian terungkap adanya penyuapan jaksa anggota tim itu, Urip Tri Gunawan, oleh Artalyta Suryani, orang dekat Sjamsul. Sekarang publik kembali ragu apakah pemerintah mampu bersikap tegas terhadap konglomerat seperti Syamsul. Dengan adanya skandal suap itu, seharusnya kejaksaan segera memproses lagi penyelidikan kasus BLBI Sjamsul. Keterlibatan dia dalam kasus suap harus diusut.

Begitu pula kasus David Nusa. Menteri Hukum mestinya segera mengusut siapa yang mengizinkan dia jalan-jalan ke luar negeri. Kenapa pula David diberi status bebas bersyarat kendati belum melunasi utang. Tanpa adanya ketegasan, hukum di negeri ini akan sulit ditegakkan.

Advertisements

One thought on “Kepergian David Nusa

  1. Inilah semua korban pemberitaan media yang salah arah, dan tidak pernah lengkap mendapatkan sumber berita, dimana semua pejabat yang ditulis diatas itu, adalah yang salah semua, mereka hanya membela dirinya masing-2, dan mengorbankan anak buahnya yang melaksnakan aturan dengan benar, ( Karutan Salemba dan Kabapas Jak Pus dicopot jabatannya, sedangkan ditingkat Kejaksaan yang dicopot hanyalah bagian yg tidak penting dan tidak pernah diekpose jabatannya….. apakah media pernah tau dan menelusuri keakurasian datanya…. tidak bukan, media berhenti pemberitaan setelah ada korban, walaupun korban-2 itu tidak bersalah dan hanya dijadikan kambing hitam, dimana seolah-2 yang salah adalah mereka dan yang paling menyalahkan si DAVID karena dia NAPI ),

    Cobalah media menelursuri dengan kebenaran hati nuraninya dan benera-2 berdasarkan UU. PERS yang diyakininya…., silahkan dan saya coba memberikan sedikir arahan kronologisnya sbb :

    1. DAVID NW dipenjara berdasarkan UU.3 ttg Korupsi tahun 1971 bukan UU No.31 Tahun 1999, dimana assetnya telah disita sejak awal persidangan sebesar 2,7 Trilyun, jadi ada kelebihan 1,4 Trilyun.
    2. Sejak DAVID mempunyai keputusan hukum tetap, maka hak jaksa untuk mengeksekusi semua asset DAVID NS ( sita eksekusi ), bukan disita administrasi oleh kejaksaan selama 4 tahun lebih, tanpa dilakukan sita eksekusi, sehingga nampak terkesan DAVID tidak membayar Uang Pengganti ( lihat laporan AUDIT BPK, perihal uang pengganti yang ada di Website BPK, berapa kali kejaksaan Agung ditegur untuk segera mengeksekusi sita asset yang dilakukan )
    3. Perhitungan yang dilakukan oleh KARUTAN SALEMBA soal Pembebasan bersyarat DAVID adalah benar dan akurat, berdasarkan aturan per-undang-2 yang berlaku di lingkungan Pemasyarakatan. ( dibuktikan setelah dilakukan pemeriksaan oleh Irjen Pemasyarakatan dan sesuai jawaban Dirjen Pemasyarakatan )
    4. Ada Surat Penjelasan dari Kejagung, bahwa DAVID tidak mempunyai perkara lain dan telah membayar uang pengganti via sitaan yang dilakukan sejak awal oleh KEJAGUNG.
    5. Bagaimana seorang NAPI yang berada dipenjara tahu tentang aturan Pembebasan bersayarat dllsbgnya, kalau media saja tidak tahu, biasanya hanya diberitahukan kepada NAPI yang bersifat umum-2 saja, apalagi sampai bisa berangkat ke LUAR NEGERI, buat apa itu dibahas oleh LAPAS/BAPAS, ini kenyataan yang dialami DAVID NW.
    6. Hak untuk mencekal NAPI yang menerima pembebasan bersyarat adalah di kejaksaan agung, karena merekalah eksekutor NAPI untuk masuk dipenjara ( pada kenyataannya, banyak NAPI yang menjalani Pembebasan Bersyarat dapat ke luar negeri, cuman NAPI-nya ndak TOP, jadi nasib jeleknya bagi DAVID, karena jadi NAPI TOP, dapat diketahui kepergiannya keluar negeri )

    Masih banyaklagi yang dapat diungkap dan dicari kebenarannya, kalo media berniat mencari kebenaran yang hak, tapi kalo hanya mencari korban, maka terjadilah pemberitaan sepertri diatas, dan semua pejabatnya nampak bersih dan hebat buanget…

    SALAM BANG NAPI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s